080910 tanggal yang begitu indah disertai cuaca yang sangat cerah. Disaat oranglain ingin menjadikan hari itu sebuah hari yang special, namun hari itu ditanggal itu menjadi hari kelabu untukku. Tak ada yang bisa menduga suatu hal buruk akan terjadi, disaat semuanya masih sangat teramat baik. Termasuk aku. Sore itu sehabis magrib kamu meneleponku tanpa bilang terlebih dahulu, tumben memang, namun aku tak menyadarinya. Kitapun seperti biasa, bercerita, tertawa, saling mengejek, tak terasa sudah beberapa menit dan akhirnya kamu memulai suatu perbincangan yang menjadi awal dari keterpurukanku. “aku boleh minta satu permintaan gak yang?” “minta apaan dah? Jangan yang aneh-aneh ye” “bisa gak kita jadi temen aja?” ya Tuhan rasanya sakit, seakan langit jatuh tepat di atasku, seakan ada pedang yang sedang menusukku, menusuk hatiku yang paling dalam. Akupun terdiam, hanya terdiam. Sampai sesuatu menetes dari mataku. Ya airmataku jatuh, sedikit demi sedikit. Perlahan demi perlahan. Sampai akhirnya tak terbendung. Entah apa yang kamu pikirkan saat itu. Entah hal apa yang membuatmu menyakitiku seperti itu. Sakit, sangat sakit, hingga tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan rasa sakit itu, hingga alfabet tak dapat lagi bisa menjelaskan. Akupun memutuskan untuk mengakhiri percakapan kita. Menangis dan menangis itulah hal yang bisa aku lakukan, entah sudah berapa banyak airmata yang keluar untukmu malam itu. Aku berusaha mencari pencerahan dari sahabt-sahabatku, mereka menguatkanku, mereka ada di sampingku, tapi rasa ini, rasa yang kau tinggalkan masih berbekas, tak dapat hilang dalam sekejap. Memang benar kata orang “kita baru akan merasakan seseorang sangat berarti untuk kita sampai seseorang itu pergi meninggalkan kita” dan itulah yang aku rasakan. Kehampaan tanpamu. Hari-hariku yang indah bersamaku hanyalah akan menjadi sebuah kenangan. Kenangan terpahit sekaligus termanis untukku. Bye IS, I Love You
Tidak ada komentar:
Posting Komentar